← 返回首页目录
# UPH Festival 2026: Mahasiswa Baru Diajak Memaknai Pendidikan sebagai Panggilan Hidup

**Penulis:吉祥法师**

---

## Pendidikan sebagai Panggilan, Bukan Sekadar Jalan Menuju Karier

Universitas Pelita Harapan (UPH) kembali menyelenggarakan rangkaian acara UPH Festival 2026 yang memasuki hari kedua pada tanggal 14 Agustus 2026. Acara tahunan yang menjadi momen penyambutan mahasiswa baru ini mengusung tema besar yang mendalam, yakni *"Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform."* Tema yang diangkat dalam Bahasa Latin dan Inggris ini mengandung pesan teologis yang kuat, sekaligus menjadi fondasi filosofis bagi seluruh rangkaian kegiatan yang diselenggarakan.

Dalam festival tersebut, UPH mengajak ribuan mahasiswa barunya untuk merefleksikan kembali makna pendidikan yang selama ini mungkin hanya dipahami sebagai bekal untuk memperoleh pekerjaan atau profesi tertentu. Lebih dari sekadar itu, pendidikan diposisikan sebagai bagian integral dari panggilan hidup yang lebih besar dan bermakna. Berbagai sesi diskusi, seminar, dan kegiatan interaktif dalam festival dirancang untuk membahas bagaimana iman dan ilmu pengetahuan yang dipelajari mahasiswa dapat menjadi instrumen untuk menjawab berbagai persoalan nyata yang terjadi di masyarakat.

Konsep yang diusung dalam UPH Festival 2026 ini sejalan dengan visi jangka panjang universitas dalam membentuk generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan spiritual yang mendalam. Mahasiswa didorong untuk melihat bahwa setiap bidang studi yang mereka tekuni memiliki keterkaitan erat dengan kontribusi positif bagi sesama dan lingkungan sekitar.

---

## Memahami Konsep *Imago Dei*: Fondasi Teologis Pendidikan UPH

*Imago Dei*, yang dalam bahasa Indonesia berarti "gambar Allah," merupakan istilah teologis yang telah menjadi fondasi pemikiran dalam tradisi kekristenan sejak berabad-abad silam. Konsep ini berangkat dari narasi penciptaan dalam kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan menyerupai citra Sang Pencipta. Pemahaman ini membawa implikasi mendalam bagi cara pandang terhadap eksistensi manusia: setiap individu memiliki nilai intrinsik yang tidak dapat digantikan, serta tujuan hidup yang melekat pada diri masing-masing.

Dalam konteks pendidikan di UPH, konsep *Imago Dei* menjadi landasan untuk menegaskan bahwa setiap mahasiswa memiliki martabat dan potensi unik yang perlu dikembangkan secara optimal. Pendidikan tidak dimaknai sebagai proses mekanis untuk mentransfer pengetahuan semata, melainkan sebagai upaya holistik untuk membantu mahasiswa menemukan dan menjalankan panggilan hidup mereka. Karena setiap manusia diciptakan serupa dengan citra Penciptanya, maka setiap individu memiliki kapasitas untuk membawa perubahan positif, sekaligus menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.

Penggunaan konsep *Imago Dei* dalam tema festival juga menegaskan identitas UPH sebagai institusi pendidikan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan. Penekanan pada pendidikan sebagai panggilan hidup, bukan sekadar jalan menuju karier profesional, merupakan bagian dari identitas dan kurikulum yang sengaja dibangun sejak mahasiswa baru memasuki gerbang kampus. Hal ini tercermin dalam berbagai mata kuliah pengembangan karakter, kegiatan kerohanian, serta pembentukan komunitas yang mendukung pertumbuhan iman dan ilmu secara simultan.

---

## Perspektif Pdt. Jimmy Pardede: Pendidikan, Pekerjaan, dan Aktivitas sebagai Panggilan Besar

Salah satu sesi yang menjadi sorotan dalam UPH Festival 2026 menghadirkan Pdt. Jimmy Pardede, Gembala Sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Karawaci. Dalam penyampaiannya, Pdt. Jimmy Pardede menekankan sebuah perspektif yang mengubah paradigma tentang bagaimana seseorang seharusnya memandang pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari. Ia menegaskan bahwa ketiga aspek tersebut bukanlah sekadar rutinitas yang dijalani untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan merupakan bagian dari panggilan yang lebih besar dan transendental.

Pdt. Jimmy Pardede mendorong mahasiswa baru untuk memanfaatkan talenta yang dimiliki bukan semata-mata demi pencapaian pribadi, seperti gelar akademik, gaji besar, atau pengakuan sosial. Sebaliknya, talenta dan kemampuan tersebut perlu diarahkan untuk menjalankan tujuan hidup yang lebih luas, yang melampaui kepentingan individual dan menyentuh kepentingan komunal. Pemahaman ini mengajak mahasiswa untuk keluar dari pola pikir yang sempit tentang kesuksesan, dan beralih pada paradigma yang lebih holistik tentang kebermaknaan hidup.

Pandangan yang disampaikan Pdt. Jimmy Pardede sejalan dengan tradisi etika kerja dalam kekristenan yang memandang pekerjaan bukan sebagai kutukan atau beban, melainkan sebagai bentuk pelayanan dan ibadah kepada Tuhan serta sesama manusia. Ketika seseorang menjalankan profesinya dengan kesadaran bahwa itu adalah panggilan, maka kualitas kerja, integritas, dan dedikasi yang dihasilkan akan jauh berbeda dibandingkan ketika bekerja sekadar untuk mengejar materi atau status.

---

## Relevansi Nilai Panggilan dalam Berbagai Bidang Studi

Perspektif tentang pendidikan sebagai panggilan hidup yang disampaikan dalam UPH Festival 2026 kemudian dikaitkan dengan penerapan nyata di berbagai bidang studi yang ada di lingkungan UPH. Melalui pendekatan multidisipliner ini, mahasiswa dapat melihat bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya relevan dalam konteks spiritual atau akademis-teologis, tetapi juga memiliki aplikasi praktis yang luas dalam berbagai profesi yang akan mereka tekuni.

**Dalam bidang kesehatan**, misalnya, mahasiswa diajak memahami bahwa profesi medis bukan sekadar pekerjaan untuk menyembuhkan penyakit secara fisik. Lebih dari itu, seorang tenaga kesehatan yang menjalankan panggilan hidup akan melihat setiap pasien sebagai individu yang memiliki martabat seturut konsep *Imago Dei*, sehingga pelayanan yang diberikan menyentuh aspek holistik: fisik, mental, emosional, dan spiritual. Hal ini juga berkaitan dengan panggilan untuk berkontribusi dalam kehidupan masyarakat luas, baik di bidang kesehatan maupun bidang lainnya.

**Dalam bidang teknologi**, mahasiswa didorong untuk mengembangkan inovasi yang tidak hanya mengejar keuntungan komersial, tetapi juga mampu menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Teknologi yang dikembangkan dengan kesadaran akan panggilan hidup akan lebih berorientasi pada pemberdayaan manusia dan keberlanjutan lingkungan, bukan sekadar menciptakan produk yang membuat manusia semakin bergantung pada perangkat digital tanpa makna.

**Dalam bidang hukum**, nilai panggilan hidup tercermin dalam komitmen untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, bukan sekadar memenangkan kasus atau mengejar keuntungan finansial. Seorang profesional hukum yang memahami panggilan hidupnya akan menggunakan keahliannya untuk membela mereka yang tidak berdaya dan memperjuangkan hak-hak kelompok yang terpinggirkan dalam masyarakat.

**Dalam bidang sains**, mahasiswa diajak untuk melihat bahwa penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan bukan semata untuk publikasi akademik atau pengakuan ilmiah, melainkan untuk menemukan kebenaran yang pada akhirnya membawa manfaat bagi kemanusiaan. Ilmu pengetahuan yang dijalankan sebagai panggilan hidup akan senantiasa mempertimbangkan dimensi etis dan dampak jangka panjang dari setiap temuan atau inovasi yang dihasilkan.

**Dalam bidang bisnis**, konsep panggilan hidup tercermin dalam cara seseorang menjalankan usaha atau organisasi dengan integritas, kejujuran, dan kepedulian pada kesejahteraan karyawan serta masyarakat. Bisnis tidak lagi dilihat semata sebagai mesin pencetak laba, tetapi sebagai wadah untuk menciptakan nilai berkelanjutan yang berdampak positif bagi banyak orang.

---

## Membangun Kesadaran Panggilan sejak Awal Perkuliahan

Salah satu aspek penting yang ditekankan dalam UPH Festival 2026 adalah bahwa kesadaran akan panggilan hidup perlu dibangun sejak dini, bahkan sejak mahasiswa baru memasuki dunia perkuliahan. Pendekatan ini berbeda dengan pandangan konvensional yang sering menempatkan refleksi tentang tujuan hidup sebagai sesuatu yang dilakukan di penghujung perjalanan karier atau ketika seseorang mengalami krisis eksistensial.

Dengan membangun kesadaran ini sejak awal perkuliahan, mahasiswa diharapkan dapat menjalani masa studi mereka dengan arah yang lebih jelas dan tujuan yang lebih bermakna. Mereka tidak akan terjebak dalam rutinitas akademik yang hampa, melainkan mampu mengaitkan setiap mata kuliah, setiap tugas, dan setiap pengalaman belajar dengan kontribusi yang akan mereka berikan kepada masyarakat melalui profesi yang akan ditekuni di masa depan.

Perspektif ini juga membantu mahasiswa untuk lebih resilient dalam menghadapi berbagai tantangan selama masa perkuliahan. Ketika mereka menghadapi kesulitan akademik atau kebingungan dalam menentukan arah karier, pemahaman tentang panggilan hidup memberikan pegangan yang stabil, sehingga mereka tidak mudah putus asa dan mampu melihat setiap tantangan sebagai bagian dari proses pertumbuhan menuju tujuan hidup yang lebih besar.

---

## Peran Universitas dalam Membentuk Generasi yang Bertransformasi

Universitas Pelita Harapan, melalui penyelenggaraan UPH Festival 2026 dengan tema *"Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform,"* menegaskan komitmennya dalam membentuk karakter mahasiswa secara holistik. Tema ini mengandung tiga gerakan yang saling berkesinambungan; dimulai dari kesadaran bahwa manusia diciptakan sesuai gambar Allah, dilanjutkan dengan pemahaman tentang pemulihan melalui Kristus, dan bermuara pada panggilan untuk membawa transformasi positif dalam masyarakat.

Peran universitas dalam konteks ini bukan hanya sebagai penyedia pendidikan formal, melainkan juga sebagai *agent of change* yang membentuk generasi pemimpin masa depan yang memiliki visi transformasional. Mahasiswa yang kelak lulus dari UPH diharapkan bukan hanya menjadi profesional yang kompeten di bidangnya, tetapi juga menjadi pribadi yang memiliki "hati untuk melayani" dan kepekaan terhadap masalah-masalah sosial yang ada di sekitar mereka.

Universitas menjadi tempat bagi mahasiswa untuk dapat mengembangkan iman dan ilmu secara berkesinambungan. Melalui berbagai program akademik dan non-akademik, mahasiswa dibekali dengan keterampilan teknis sekaligus pembentukan karakter sehingga mampu menjadi pribadi yang tidak mudah goyah dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan zaman yang semakin kompleks.

---

## Implikasi bagi Mahasiswa Baru

Bagi mahasiswa baru yang mengikuti UPH Festival 2026, acara ini menjadi pintu masuk yang sangat baik untuk memahami bahwa kehidupan kampus yang akan mereka jalani bukan sekadar untuk mengejar indeks prestasi dan gelar. Kesadaran bahwa pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari merupakan bagian dari panggilan yang lebih besar akan membawa mereka pada pengalaman pendidikan yang lebih kaya dan bermakna.

Tantangan yang dihadapi mahasiswa baru di era kontemporer ini, seperti kemajuan teknologi yang pesat, perubahan kebutuhan pasar kerja yang dinamis, serta berbagai krisis sosial dan lingkungan yang terjadi secara global, menuntut adanya generasi yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki fondasi nilai yang kokoh. Melalui pemahaman tentang *Imago Dei* dan panggilan hidup, mahasiswa UPH dibekali dengan "kerangka berpikir" dan "kerangka bertindak" yang akan menuntun mereka menjadi pribadi yang mampu bertransformasi dan membawa transformasi bagi lingkungan sekitar.

Dengan mengusung tema yang mendalam ini, UPH Festival 2026 diharapkan dapat menjadi titik tolak bagi mahasiswa baru untuk menjalani perjalanan pendidikan mereka dengan penuh kesadaran, integritas, dan dedikasi.